Riwayat 6

Maka aku pun berkata: Aku adalah seorang perempuan yang masih muda belia. Aku tidak banyak membaca al-Qur’an. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar semua ini, hingga masuk ke hati kalian, bahkan kalian mempercayainya. Jika aku katakan kepada kalian, bahwa aku bersih dan Allah pun tahu bahwa aku bersih, mungkin kalian tidak juga mempercayaiku. Dan jika aku mengakui hal itu di hadapan kalian, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku bersih, tentu kalian akan mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menemukan perumpamaan yang tepat bagiku dan bagi kalian, kecuali sebagaimana dikatakan ayah Nabi Yusuf: Kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.

Kemudian aku pindah dan berbaring di tempat tidurku. Demi Allah, pada saat itu aku yakin diriku bersih dan Allah akan menunjukkan kebersihanku. Tetapi, sungguh aku tidak berharap akan diturunkan wahyu tentang persoalanku. Aku kira persoalanku terlalu remeh untuk dibicarakan Allah SWT dengan wahyu yang diturunkan. Namun, aku berharap Rasulullah SAW akan bermimpi bahwa Allah membersihkan diriku dari fitnah itu.

Rasulullah SAW belum lagi meninggalkan tempat duduknya dan tak seorang pun dari isi rumah ada yang keluar, ketika Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Tampak Rasulullah SAW merasa kepayahan seperti biasanya bila beliau menerima wahyu, hingga tetesan keringat beliau bagaikan mutiara di musim dingin, karena beratnya firman yang diturunkan kepada beliau.  

Ketika keadaan yang demikian telah hilang dari Rasulullah SAW (wahyu telah selesai turun), maka sambil tertawa, perkataan yang pertama kali beliau ucapkan adalah:

Bergembiralah, wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkan dirimu dari tuduhan.

Lalu ibuku berkata kepadaku: Bangunlah. Sambutlah beliau.  Aku menjawab: Demi Allah, aku tidak akan bangun menyambut beliau. Aku hanya akan memuji syukur kepada Allah. Dialah yang telah menurunkan ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa diriku bersih.