Riwayat 2

Kemudian ia menyiapkan onta sehingga aku dapat menaikinya. Dan ia pun berangkat sambil menuntun onta yang aku tunggangi hingga kami dapat menyusul pasukan yang sedang berteduh di tengah hari yang sangat panas. Maka celakalah orang-orang yang telah menuduhku di mana yang paling besar berperan ialah Abdullah ibn Ubay ibn Salul.  

Sampai kami tiba di Madinah dan aku pun segera menderita sakit setiba di sana selama sebulan. Sementara orang-orang ramai membicarakan tuduhan para pembuat berita bohong padahal aku sendiri tidak mengetahui sedikit pun tentang hal itu. 

Yang membuatku gelisah selama sakit adalah bahwa aku tidak lagi merasakan kelembutan Rasulullah SAW yang biasanya kurasakan ketika aku sakit. Rasulullah SAW hanya masuk, mengucapkan salam, kemudian bertanya:

Bagaimana keadaannya?

Hal itu membuatku gelisah, tetapi aku tidak merasakan adanya keburukan, sampai ketika aku keluar setelah sembuh bersama Ummu Misthah ke tempat pembuangan air besar di mana kami hanya keluar ke sana pada malam hari sebelum kami membangun tempat membuang kotoran (WC) di dekat rumah-rumah kami.  

Kebiasaan kami sama seperti orang-orang Arab dahulu dalam buang air. Kami merasa terganggu dengan tempat-tempat itu bila berada di dekat rumah kami. Aku pun berangkat dengan Ummu Misthah, seorang anak perempuan Abu Ruhm ibn Mutthalib ibn Abdi Manaf dan ibunya adalah putri Shakhr ibn 'Amir, bibi Abu Bakar al-Siddiq. Putranya bernama Misthah ibn Utsatsah ibn Abbad ibn Mutthalib. Aku dan putri Abu Ruhm langsung menuju ke arah rumahku sesudah selesai buang air. Tiba-tiba Ummu Misthah menginjak bajunya dan terpeleset jatuh sehingga terucaplah dari mulutnya kalimat: Celakalah Misthah.

Aku berkata kepadanya: Alangkah buruknya apa yang kau ucapkan. Apakah engkau memaki orang yang telah ikut serta dalam perang Badr?